Tampilkan postingan dengan label Petrologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petrologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2016

Cara Deskripsi Batuan Beku


Apa kabar sahabat GN? Buat sahabat GN yang mau tau gimana sih cara pemerian  atau deskripsi batuan beku, nih ane ada sedikit cerita mengenai hal itu, bagi sahabat GN yang sedang menekuni ilmu kebumian tentunya harus memahami betul mengenai deskripsi batuan (dalam hal ini batuan beku) dengan demikian sahabat GN harus tau apa aja yang harus di cantumkan dalam mendeskripsikan batuan. Dalam deskripsi batuan beku meliputi:  Struktur, Tekstur, Komposisi
A. Struktur Batuan Beku

Struktur batuan beku adalah bentuk batuan beku dalam skala besar seperti lava bantal yang tebentuk dilingkungan air (laut), seperti lava bongkah, struktur aliran lava dan lain-lainnya. Suatu bentuk struktur batuan sangat erat sekali dengan waktu terbentuknya. Macam-macam struktur batuan beku adalah :
1. Secara singkapan
a.    Pilow lava atau lava bantal, merupakan struktur yang dinyatakan pada batuan ekstrusi umumnya antara 30-60 cm dan jaraknya berdekatan, khas pada vulkanik bawah laut.
b.    Joint, struktur yang diandai oleh kekar-kekar yang tersusun secara tegak lurus arah aliran. Struktur ini dapat berkembang menjadi columnar joint.
c.    sebagai akibat peleburan tidak sempurna dari suatu batuan samping didalam magma yang menerobos.
d.    Autobreccia, struktur pada lava yang memperlihatkan fragmen-fragmen dari lava itu sendiri.
2. Secara Hand Spaceman
a.    Masif, apabila tidak menunjukkan adanya fragmen batuan lian yang tertanam dalam tubuhnya.
b.    Vesikuler, merupakan struktur yang ditandai adanya lubang-lubang dengan arah teratur. Lubang ini terbentuk akibat keluarnya gas pada waktu pembekuan berlangsung.
c.    Scoria, seperti vesikuler tetapi tidak menunjukkan arah yang teratur.
d.    Amigdaloidal, struktur dimana lubang-lubang keluarnya gas terisi oleh mineral-mineral sekunder seperti zeolith, karbonat dan bermacam silica.
e.    Xenolith, struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertanam kedalam batuan beku. Struktur ini terbentuk

B. Tekstur Batuan Beku
Tekstur dalan batuan beku dapat diterangkan sebagai hubungan antar massa mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan.  Selama pembentukan tekstur tergantung pada kecepatan dan orde kristalisasi. Dimana keduanya sangat tergantung pada temperatur, komposisi kandungan gas, viskositas magma dan tekanan. Dengan demikian tekstur menunjukkan derajat kristalisasi (degree of crystallinity), ukuran btir (grain size) atau granularitas dan kemas (fabric) atau hubungan antar unsur-unsur tersebut (W.T. Huang, 1962: Williams, 1982).
Dalam kaitan dengan tekstur batuan, Rosenbusch mengemukakan hukumnya :
a.    Jika suatu mineral dilingkupi mineral lain, maka mineral yang melingkupi lebih muda.
b.    Mineral yang terbentuk lebih awal biasanya berbentuk euhedral atau paling tidak mendekati 
euhedral dibanding yang terbentuk kemudian.
c.    Jika kristal besar dan kecil bersama-sama dalam satu batuan kristal besar adalah yang berbentuk lebih dulu.
Tekstur dalam batuan di bagi menjadi beberapa faktor, antara lain derajat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas dan hubungan antar butir.     

    A. Derajat kristalisasi
Tingkat kristalisasi pada batuan beku  tergantung dari proses pembekuan itu sendiri. Bila pembekuan magma berlangsun lambat maka akan terjadi cukup energi pertumbuhan kristal pada saat melewati perubahan fase dari cair ke padat sehingga akan membentuk kristal  –  kristal yang berukuran besar. Bila penurunan suhu relatif cepat maka kristal – kristal yang di hasilkan kecil – kecil dan tidak sempurna. Apabila pembekuan magma terjadi Sangat cepat maka kristal tidak akan terbentuk karena tidak ada energi yang cukup untuk pengintian dan pertumbuhan kristal sehinga akan di hasilkan gelas. Tingkat kristalisasi batuan batuan beku dapat di bagi menjadi
1. holokristalin: bila seluruh batuan tersusun atas kristal – kristal mineral.
2. hipokristalin: bila batuan beku terdiri dari sebagian          kristal dan sebagian gelas.
3. holohialin: bila seluruh batuan tersusun oleh gelas.               
    B. Granularitas
Dalam bautan beku granularitas menyangkut derajat keaasaman ukuran butir dari kristal penyusun batuan.
Pada batuan beku non fragmental dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
Tekstur Fanerik  Granular
a.    Fanerik apabila kristal dapat dibedakan dengan mata telanjang dan ukuran seragam.                         
                                                                            


              
Tekstur afanitik
b.    Afanitik apabila kristal mineral Sangat halus sehingga tidak dapat di     bedakan dengan mata telanjang




     C. Bentuk kristal 

Untuk kristal – kristal yang mempunyai ukuran cukup besar dapat di lihat kesempurnaan bentuk kristalina. Hal ni dapat memberikan gambar mengenai proses kristalisasi mineral mineral pembentuk batuan. Bentuk kristal dapat di bedakan menjadi
a)    Euhedral : apabila bentuk kristal sempurna dan di batasi oleh bidang – bidang kristal yang jelas.
b)    Subhedral : apabila bentuk kristal tidak sempurna dan hanya sebagian saja yang di batasi bidang – bidang kristal.

c)    Anhedral : apabila bidang atas kristal tidak jelas.

     D. Hubungan Kristal
1.    Equigranular        
     Disebut equigranular apabila memiliki ukuran kristal yang seragam

2.    Inequigranular 
     Disebut memiliki tekstur inequigranular apabila ukuran kristalin pembentukanya tidak seragam. Tekstur di bagi menjadi :
Tekstur faneroporfiritik

a.    faneroporfiritik apabila kristal mineral yang besar  (fenokris)di kelilingi kristal mineral yang lebih kecil dandapat di kenal dengan mata telanjang


Tekstur porfiroafanitik
 
b.    Pirfirioafanitik apabila fenokris di kelilingi oleh masa dasar yang afanitik.

                           


3.    gelasan (glassy)
Batuan beku dikatakan memiliki tekstur gelasan apabila semuanya tersusun atas gelas
C. Komposisi Mineral

    Menurut Walter T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral yaitu :
a.    Mineral Utama
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan. Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu :
Mineral felsic (mineral berwarna terangdengan densitas rata-rata 2,5-2,7) yaitu:
 Kwarsa (SiO2)
a)    Kelompok feldspar, terdiri dari seri feldspar alkali (K, Na) AlSi3O3. seri feldspar alkali terdiri dari sanidine, orthoklas, anorthoklas, adularia, dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albite, olgoklas, andesite, labradorite, bitonit dan anortit.
b)    Kelompok feldspatoit (Na, K Alumina silica), terdiri dari nefelin, sodalit, leusit.
Mineral mafic (mineral-mineral feromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata-rata 3,0-3,6) yaitu :
a)    Kelompk olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsterite.
b)    Kelompok piroksen, terdiri dari Enstatite, Hiperstein, augit, Pigeonit, Diopsit.
c)    Kelompok mika, terdiri dari biotite, Muskovite, plogopit.
d)    Kelompok amphibole, terdiri dari Anthofilit, Cumingtonit, Hornblend, Rieberkit, Tremolit Aktinolit, Glaucofan, dll.
b.    Mineral Sekunder
Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, reaksi hydrothermal maupun hasil metamorfisme terhadap mineral-mineral utama. Dengan demikian mineral-mineral ini tak ada hubungannya dengan pembekuan magma (non pirogenetik). Mineral sekunder terdiri dari :
a.    Kelompok kalsit (kalsit, dolomite, magnesite, siderite), dapat terbentk dari hasil ubahan mineral plagioklas.
b.    Kelompok serpentine (antigorit dan krisotil), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral mafic (terutama kelompok olivine dan piroksen).
c.    Kelompok klorit (proklor, penin, talk), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral kelompok plagioklas.
d.    Kelompok kaolin (kaolin, Hallosyte), umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan beku.
c.    Mineral Tambahan
Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, umumnya dalam jumlah seadikit. Apabila hadir dalam jumlah cukup banyak tetap tidak mempengaruhi penamaan batuan, tetepi hal ini bisa mempunyai nilai ekonomis. Termasuk dalam golongan ini antara lain : Hematit, Kromit, Spena, Muskovit, Rutile, Magnetit, Apatit, dan lain-lain.
Berdasarkan mineral penyusun batuan beku dapat di bedakan menjadi empat yaitu:
a)    Kelompok granit – riolit berasal dari magma yang bersifat asam terutama terrsusun oleh mineral kwarsa, orthoklas, plagioklas Na, kadang terdapat horblend, biotit, muskovit dalam jumlah yang kecil.
b)    Kelompok diorit – andesit,: berasal dari magma yang bersifat intermvediet, teutama tersusung atasmineral – mineral plagioklas,horblend piroksen dan kwarsa biotit, orthoklas dalam jumlah kecil.
c)    Kelompok gabro – basalt: tersusun dari magma asal yang bersifat basa dan terdiri dari mineral—mienral olivin plagioklas Ca, piroksen dan horblend.
d)    Kelompok ultra basa terutama tersusun oleh olivin piroksen. Mineral laxin yang mungkin adalah plagioklas Ca dalam jumlah yang Sangat kecil.

Perbedaan Batuan Intrusif dan Batuan Ekstrusif serta Klasifikasinya


Masih tentang batuan beku nih sahabat GN, kali ini ane bakal bahas mengenai batuan intrusif dan batuan ekstrusif, serta perbedaan dari keduanya.

Batuan Intrusif
Batuan intrusif sangat berbeda dengan batuan ekstrusif. Tiga prinsip tipe bentuk intrusif batuan beku berdasarkan bentuk dasar dan geometri adalah
 
a)    Bentuk tidak beraturan pada umumnya diskordan dan biasanya memiliki bentuk yang jelas dipermukaan (batholite dan stock).
 
b)    Intrusi berbentuk tabular, terdiri dari dua bentuk berbeda yang mempunyai bentuk diskordan dan disebut korok/dyke, dan yang berbentuk konkordan diantaranya sill dan lakolit.
 
c)    Tipe ketiga dari intrusif relatif memiliki tubuh yang kecil. Bentuk khas dari group ini adalah intrusif silinder atau pipa.
Batuan beku dalam, batuan beku intrusive,batuan beku plutonik. Batuan ini tarjadi dari pendinginan yang sangat lambat (jutaan tahun), sehinngga memungkingkan tumbuh kristal – kristal besar dan bentuknya sempurna.
 
1.    Intrusi berbentuk diskordan
Bentuk tidak beraturan ,memotong lapisan yang di terobosnya.kebanyakan merupakan kumpulan sejumlah tubuh – tubuh intrusi yang komposisinya agak berbeda. Batolit merupakan BB dalam (pluton)yang paling besar dimensinya. Ukuran panjang >1.000 km, lebar 250 km dan ketebalaban 20-30 km
 
a.    Stock
Stock hamper sama dengan batolit, tetapi ukuran dimensinya tidak lebih 10 km. stok merupakan penyerta dari suatu tubuh batolit atau merupakan bagian atas batolit.
 
b.    Korok / dyke
Korok / dyke disebut juga gang, merupakan salah satu batuan intrusi yang di bandingkan dengan batolit, berdimensi kecil bentuknya tabular sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar,memotong perlapisan batuan yang di terobosnya.
 
c.    Jenjang vulkanik / volcanic neck
jenjang vulkanik / volcanic neck adalah pipa guung api di bawah,yang mengalirkan magma ke kepundang. Kemudian setelah batuan yang menutupi di seketarnya tererosi, maka batuan yang terbentuk + silindri menonjol dari topografi di sekitarnya.
 
2.    Intrusi berbentuk  konkordan                                           
 
a. sill
Sill adalah intrusi batuan yang sejajar dengan perlapisan batuan yang di terobosnya.berbentuk tabular pipih dengan sisinya sejajar.
 
b. lakolit
lakolit merupakan intrusi yang sejajar dengan perlapisan batuan yang di terobosnya. Hampir sama dengan sill,bedanya pada pada bentuk bagian atasnya di mana batuan yang di terobos melengkun atau cembung ke atas membentuk kubah landai.
 
c. lapolit
Lapolit hamper sama dengan lakolit hanya bagian atas dan bagian atas dan bawahnya cekung ke atas. 

Batuan Ekstrusif
Batuan beku luar, batuan beku ekstrusif, batuan vulkanis
Batuan beku luar adalah magma yang mencapai permukaan bumi, ke luar melalui rekahan atau lubang kepundang gunung api sebagai erupsi. Batuan beku luar membeku dengan cepat, sehingga memperlihatkan butiran – butiran yang kasar (croase grains). Keluarnya magma di permukaan bumi melalui rekahan disebut erupsi linier atau  fissure eruption  yang keluar melalui lubang kepundang gunung api disebut erupsi sentral.
Warna Batuan
 
             Warna batuan beku berkaitan erat dengan komposisi minral penyusunya. Mineral penyusun batuan tersebut Sangat di pengaruhi oleh komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahuijenis magma pembekuanya, kecuali untuk mempunyai batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
 
            Batuan beku yang berwarna cerah umumnya dalam batuan beku asam yang tersusun atas mineral – mineral felsik misalnya : Kuarsa, potasium feldspar, muskovit.
 
Bautan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya adalah batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak.
 
Contohnya :Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusung dominan adalah mineral mafik.
 
Contohnya : Batuan beku yang wanrnanya hijau kelam dan biasanya monomineralik disebut batuan beku ultra basa biasanya.
 
Klasifikasi Berdasarkan Kimiawi
 
    Klasifikasi ini telah lama menjadi standar dalam geologi (C.J. Hughes, 1962) dan dibagi dalam empat golongan yaitu :
 
a.    Batuan beku asam, bila batuan tersebut mengandung lebih 66% SiO2. Contoh batuan ini adalah Granit dan Ryolit.
 
b.    Batuan beku menengah atau intermediate, bila batuan tersebut mengandung 52%-66% SiO2. Contoh : Diorit dan Andesite.
 
c.    Batuan beku basa, bula batuan beku tersebut mengandung 45%-52% SiO2. Contoh : Gabro dan Basalt.
 
d.    Batuan beku ultra basa, bila batuan tersebut mengandung < 45% SiO2. Contoh : peridotite dan Dunit.

Pengertian dan Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Bowen Reactions Series


Hai sahabat GN!!! Ane mau curhat mengenai batuan beku, apa itu batuan beku dan bagai mana klasifikasinya?

Batuan beku adalah batuan yang tebentuk langsung dari pembekuan magma. Proses pembekuan tersebut merupakan proses perubahan fase dari fase cair menjadi fase padat. Pembekuan magma akan menghasilkan kristal-kristal mineral primer ataupun gelas. Proses pembekuan magma akan sangat berpengaruh terhadap tekstur dan struktur primer batuan, sedangkan komposisi batuan sangat di pengaruhi oleh sifat magma asal.
 
    Pada saat penurunan suhu akan melewati tahap perubahan fase cair ke padat. Apabila saat itu terdapat cukup energi pembentukan kristal, maka akan terbentuk kristal-kristal mineral berukuran besar, sedangkan bila energi pembentukan rendah akan terbentuk kristal yang berukuran halus. Bila pendinginan berlangsung sangat cepat, maka kristal tidak terbentuk dan cairan magma membeku menjadi gelas.
 
    Setiap mineral memiliki kondisi tertentu pada saat mengkristal. Mineral – mineral mafik umumnya mengkristal pada suhu yang relatif lebih tinggi di bandingkan dengan mineral felsik. Secara sederhana dapat dilihat pada Deret reaksi Bowen.
Reaksi Bowen dari  mineral utama pembentuk batuan beku
 
    Seri reaksi bowen merupakan suatu skema yang menunjukkan urutan kristalisasi dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri dari dua bagian. Mineral-mineral tersebut dapat digolongkan dalan dua golongan besar yaitu :
 
a.    Golongan mineral hitam atau mafic mineral.
b.    Golongan mineral putih atau felsik mineral.
 
Bowen Reactions Series
Dalam proses pendinginan magma dimana itu tidak langsung semua membeku, tetapi mengalami penurunan temperature secara perlahan bahkan mungkin cepat. Penurunan temperatur ini disertai mulainya pembentukan dan pengendapan mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan temperaturnya. Pembentukan mineral dalam magma karena penurunan temperatur telah disusun oleh Bowen. Bowen telah membuat sebuah tabel pembentukan mineral dan tabel tersebut sangat berguna sekali dalam menginterpretasikan mineral-mineral tersebut. Sebelah kiri mewakili mineral mafic, yang pertama kali terbentuk dalam temperatur sangat tinggi adalah olivine. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh oleh SiO2, maka piroksenlah yang terbentuk pertama kali. Olivine dan piroksen adalah pasangan Ingcongruant Melting dimana setelah pembentukannya olivine akan bereaksi dengan larutan sisa membentuk piroksen. Temperatur menurun terus dan pembentukan mineral berjalan sesuai dengan temperaturnya. Mineral yang terakhir terbentuk adalah biotite, ia terbentuk dalam temperatur yang rendah.
 
Mineral disebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok plagioklas, karena mineral ini paling banyak terdapat dan tersebar luas. Anorthite adalah mineral yang pertama kali terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada batuan beku basa seperti Gabro atau Basalt. Andesite terbentuk pada suhu menengah dan terdapat pada batuan beku Diorit atau Andesit. Sedangkan mineral yang terbentuk pada suhu rendah adalah albite, mineral ini banyak tersebar pada batuan asam seperti Granit atau Ryolite. Reaksi berubahnya komposisi Plagioklas ini merupakan deret Solid-Solution yang merupakan reaksi kontinu, artinya kristalisasi Plagioklas Ca-Plagioklas Na, jika reaksi setimbang akan berjalan menerus. Dalam hal ini anorthite adalah jenis plagioklas yang kaya Ca, sering disebut Calcic Plagioklas, sedangkan albite adalah Plahioklas kaya Na (Sodic plagioklas/Alkali Plagioklas). Mineral sebelah kanan dan kiri bertemu pada mineral potassium Feldspar dan mineral-mineral Muscovite dan terakhir sekali mineral Kwarsa, maka mineral kwarsa merupakan mineral yang paling stabil diantara seluruh mineral Felsik atau Mafic dan sebaliknya mineral yang terbentuk pertama kali adalah mineral yang sangat tidak stabil dan mudah sekali berubah menjadi mineral lain.

Jumat, 30 Desember 2016

Pengertian, Klasifikasi, dan Cara Deskripsi Batuan Sedimen Klastik


Apa kabar sahabat GN hari ini? sekarang ane mau cerita dikit tentang batuan sedimen klastik, dan cara pemeriannya.
Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen itu sendiri. Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan. Setelah pengendapan berlangsung, sedimen mengalami diagenesa, yakni proses perubahan-perubahan yang berlangsung pada temperatur rendah suatu sedimen, selama dan sesudah lithifikasi ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras.
a.    Kompaksi sedimen
Kompaksi sedimen yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban diatasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.
b.    Sementasi
Sementasi yaitu turunnya material-material diruang antar sedimen dan secara mengikat butir-butir sedimen satu dengan yang lain. Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan (permeabilitas relative) pada ruang antar butir makin besar.
c.    Rekristalisasi
Rekristalisasi yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atau jauh sebelumnya. Rekristalisasi umumnya terjadi pada pembentukan batuan karbonat.
d.    Autigenesis
Autigenesis yaitu terbentuknya mineral baru dilingkungan diagenetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat, silica, klorit, illite dan lain-lain.
e.    Metasomatisme
Metasomatisme yaitu pergantian mineral sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal. Contoh : dolomitisasi, sehingga dapat merusak bentuk suatu batuan karbonat atau fosil.
Cara Pemerian
1. Pemerian Batuan Sedimen Klastik
 Pemerian batuan sedimen klastik terutama disasarkan pada tekstur, komposisi mineral dan struktur.
A. Struktur
    Struktur sedimen meripakan suatu kelainan dari perlapisan normal dari batuan sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentukannya. Pembentukannya dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah proses pengendapan (Pettijohn & Potter, 1964: koesoemadinata, 1981). Dengan kata lain, struktur sedimen adalah kenampakan batuan sedimen dalam dimensi yang lebih besar. Studi struktur paling baik dilakukan dilapangan (Pettijohn, 1975). Berdasarkan asalnya, struktur sedimen yang terbentuk dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu :
a.    Struktur sedimen primer.
Terbentuk karena proses sedimentasi, dengan demikian dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya, antara lain : perlapisan, gelembur gelombang, perlapisan silang siur, konvolut, perlapisan bersusun dan lain-lain.
b.    Struktur sedimen sekunder.
Terbentuk sesudah sedimentasi, sebelum atau pada waktu diagenesa. Juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya, antara lain : cetak beban, rekah kerut, jejak binatang dan lain-lain.
c.    Struktur organik.
Struktur yang terbentuk oleh kegiatan organisme seperti molusca, cacing atau binatang lainnya, antara lain : kerangka, laminasi pertumbuhan dan lain-lain.
    Struktur batuan sedimen (struktur primer) tidak banyak yang dapat dilihat dari contoh-contoh batuan dilaboratorium.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi kenampakan adanya struktur perlapisan adalah :
a.    Adanya perbedaan warna mineral.
b.    Adanya perbedaan ukuran besar butir.
c.    Adanya perbedaan komposisi mineral.
d.    Adanya perubahan macam batuan
e.    Adanya perubahan struktr sedimen.
f.    Adanya perubahan kekompakan.
Macam-macam perlapisan :
a.    Massif, bila menunjukkan struktur dalam, atau ketebalan lebih dari 120 cm (Mc. Kee 7 Weir, 1953).
b.    Perlapisan sejajar, bila bidang perlapisan saling sejajar.
c.    Laminasi, perlapisan sejajar yang ukuran atau ketebalannya lebih kecil dari lem. Terbentuk dari 
suspensi tanpa energi mekanis.
d.    Perlapisan pilihan, bila perlapisan disusun atas butiran yang berubah teratur dari halus ke kasar pada arah vertikal terbentuk dari arus pekat.
e.    Perlapisan silang siur, perlapisan yang membentuk sudut terhadap bidang perlapisan yang berada diatas atau dibawahnya dan dipisahkan oleh bidang erosi, terbentuk akibat intensitas arus yang berubah-ubah.
Macam – macam struktur batuan sedimen
B. Tekstur
    Tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya (Pettijohn, 1975). Butiran tersusun dan terikat oleh semen dan masih adanya rongga diantara butirnya. Pembentukannya dikontrol oleh media dan cara transportasinya (Jackson, 1970, Reineck dan Singh, 1975). Pembahasan tekstur meliputi :
1. Ukuran butir
Pemerian ukuran butir didasarkan pada skala Wentworth, 1922 adalah sebagai berikut :
 
Skala Wenworth

2. Pemilahan
Pemilahan adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun sedimen, artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar butirnya, maka pemilahan semakin baik. Dalam pemilahan dipakai batasan-batasan sebagai berikut :
a)    Pemilahan baik (well sorted)
b)    Pemilahan sedang (moderate sorted)
c)    Pemilahan buruk (poorly sorted)
Pemilahan
3. Kebundaran
Kebundaran adalah nilai membulat atau meruncingya butiran dimana sifat ini hanya bisa diamati pada batuan sedimen klasik kasar. Kebundaran dapat dilihat dari bentuk batuan yang terdapat dalam batuan tersebut. Tentunya terdapat banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk mudahnya dipakai perbandingan sebagai berikut :
1)    Well rounded (membulat baik) : semua permukaan konveks hampir equidimensional, spheroidal.
2)  Rounded : pada umumnya permukaan-permukaan bundar, ujung-ujung dan tepi-tepi butiran bundar.
3)    Subrounded : permukaan umumnya datar dengan ujung-ujung yang membundar.
4)    Subangular : permukaan pada umumnya datar dengan ujung-ujung tajam.
5)    Angular : permukaan konkal dengan ujungnya yang tajam.
Kebundaran

4. Kemas (Fabric)
Didalam batuan sedimen klastik dikenal dua macam kemas, yaitu :
a.    Kemas terbuka : butiran tidak saling bersentuhan (mengambang didalam matriks).
b.    Kemas tertutup : butiran saling bersentuhan satu sama lainnya.
C. Komposisi Mineral.
    Komposisi mineral dari batuan sedimen klastik dapat dibedakan yaitu :
a.    Fragmen adalah bagian butiran yang ukurannya paling besar dan dapat berupa pecahan-pecahan batuan, mineral dan cangkang-cangkang fosil atau zat organik lainnya.
b.    Matriks adalah bagian butiran yang ukurannya lebih kecil dari fragmen dan terletak diantara fragmen massa dasar. Matriks dapat berupa batuan, mineral atau fosil.
c.    Semen, bukan butir tetapi material pengisi rongga antar butir dan bahan pengikat diantara 
fragmen dan matriks. Biasanya berbentuk amorf atau kristalin. Bahan-bahan semen yang lazim adalah :
a.    Semen karbonat (kalsit, dolomit).
b.    Semen silika (kalsedon, kwarsa).
Semen oksida besi (limonit, hematite, siderite).

Pengertian dan Klasifikasi Batuan Piroklastik



Sahabat GN ane mau berbagi nih, masih tentang petrologi tapi kali ini ane mau bahas tentang batuan piroklastik, apa itu batuan piroklastik dan klasifikasinya.
Batuan piroklastik adalah batuan vulkanik yang bertekstur klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunung api, dengan material penyusun dari asal yang berbeda (W.T. Huang, 1962). Material penyusun tersebut terendapkan dan terkonsolidasi sebelum mengalami transportasi (reworked) oleh air maupun es.

    Pada kenyataanya bahwa batuan hasil letusan gunung api dapat berupa suatu hasil lelehan merupakan lava yang telah dibahas dan diklasifikasikan kedalam batuan beku, serta dapat pula berupa produk ledakan atau eksplosif yang bersifat fragmental dari semua bentuk cair, gas atau padat yang dikeluarkan dengan jelas sebagai erupsi.
Komposisi Mineral Batuan Piroklastik
   
 Fisher, 1984 dan Williams, 1982 mengelompokkan material-material penyusun batuan-batuan piroklastik sebagai berikut :
a.    Kelompok Juvenil (Essential)
Bila material penyusun dikeluarkan langsung dari magma, terdiri dari padatan, atau partikel tertekan dari suatu cairan yang mendingin dan kristal (pyrogenic crystal).
Kelompok Cognate (Accessory)
Bila material penyusun dari material hamburan yang berasal dari letusan sebelumnya, dan gunung api yang sama atau tubuh vulkanik yang lebih tua dari dinding kawah.
b.    Kelompok Accidental (bahan asing)
Bila material penyusunnya merupakan bahan hamburan yang berasal dari batuan non gunung api atau batuan dasar berupa batuan beku, sediment atau metamorf, sehingga mempunyai komposisi yang seragam.
Material piroklastik dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya sebagai berikut (Schmid, 1981 vide Fisher, 1984)
Pengelompokan material piroklastik berdasarkan ukurannya (Schmid 1981)

Endapan Piroklastik tak Terkonsolidasi
1.    Bomb gunung api
     Bomb adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari 64 mm, dan sebagian atau semuanya plastis pada waktu tererupsi. Beberapa bomb mempunyai ukuran yan sangat besar. Sebagai contoh, bomb yang mempunyai diameter  m dengan berat 200 kg dengan hembusan setinggi 600 m selama erupsi digunung api Asama Jepang pada tahun 1935. Bomb ini dapat dibagi atas tiga macam :

Bomb pita (ribon bomb) yaitu yang memanjang seperti suling dan sebagian besar gelembung-gelembung memanjang dengan arah sama. Bomb ini sangat kental mempunyai bentuk menyudut serta retakannya tidak teratur.

a.    Bomb teras (cored bomb) yaitu bomb yang mempunyai inti dari material yang terkonsolidasi lebih dahulu, mungkin dari fragmen-fragmen sisa erupsi terdahulu pada gunung api yang sama.

b.    Bomb kerak roti (bread crust bomb) yaitu bomb yang bagian luarnya retak-retak persegi seperti nampak pada kulit roti yang mekar, hal ini disebabkan oleh bagian kulitnya cepat mendingin dan menyusut.

2.    Block gunung api
     Merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari fragmen batuan yang sudah memadat lebih dahulu degan ukuran lebih besar dari 64 mm. block-block ini selalu menyudut bentuknya atau equidimensional.

3.    Lapilli
       Berasal dari bahasa latin yaitu lapillus, nama untuk hasil erupsi ekspulsif gunung api yang berukuran 2mm-64mm. selain dari fragmen batuan kadang-kadang terdiri dari mineral-mineral augit, olivine dan plagioklas.

4.      Debu gunung api
Debu gunung api adalah batuan piroklastik yang berukuran 2mm-1/256mm yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi eksplosif, namun ada juga gunung api yang terjadi karena proses pengesekan pada waktu erupsi gunung api. Debu gunung api masih dalam keadaan belum terkonsolidasi.

Endapan Piroklastik yang Terkonsolidasi

Merupakan akibat lithifikasi endapan piroklastik jatuhan :

1.    Breksi piroklastik
Breksi Piroklastik adalah batuan yang disusun oleh block-block gunung api yang telah mengalami konsolidasi dalam jumlah lebih 50% serta mengandung kurang 25% lapilli dan debu.

2.    Aglomerat
Aglomerat adalah batuan yang dibentuk oleh konsolidasi material-materialdengan kandungannya didominasi oleh bomb gunung api dimana kandungan lapilli dan abu kurang 25%.

3.    Batu lapilli
Batu Lapili adalah batuan yang dominan terdiri dari fragmen lapilli dengan ukuran 2-64mm.

4.    Tuff
Tuff adalah endapan dari gunung api yang telah mengalami konsolidasi dengan kandungan abu mencapai 75%. Macam-macamya yaitu :
1.    Tuff lapilli
2.    Tuff aglomerat
3.    Tuff breksi piroklastik

Batuan Akibat Lithifikasi Endapan Piroklastik Aliran

1.    Ignimbrite
Adalah batuan yang disusun dari endapan material oleh aliran abu. Material dominan terdiri dari pecahan-pecahan gelas pumice yang dihasilkan oleh buih-buih magma asam.

2.    Breksi aliran piroklastik
Adalah breksi yang dominan yang disusun oleh fragmen-fragmen yang runcing serta ditransportasi oleh glowing avalanches (akibat hawa panas).

3.    Vitrik tuff
Adalah batuan yang dihasilkan oleh endapan piroklastik aliran, terdiri dari fragmen abu dan lapilli, telah mengalami lithifikasi dan belum terluaskan,

4.    Weled tuff
Adalah batuan piroklastik hasil dari piroklastik aliran yang telah terlithifikasi dan merupakan bagian dari ignimbrite.

Beberapa Mekanisme Pembentukan Endapan Piroklastik
 
1.    Endapan piroklastik jatuhan
Adalah onggokan piroklastik yang diendapkan melalui udara. Endapan ini umumnya akan berlapis baik dan pada lapisannya akan memperlihatkan struktur butiran bersusun. Endapan ini meliputi agglomerate, breksi piroklastik, tuff, lapilli.

2.    Endapan piroklastik aliran
Adalah material hasil langsung dari pusat erusi, kemudian teronggokan disuatu tempat. Hal ini meliputi hot avalance, lava collapse avalance, hot ash avalance. Aliran ini umumnya berlangsung pada suhu tinggi antara 500-650 derajat celcius dan temperatur cenderung menurun selama pengalirannya. Penyebaran pada bentuk endapan sangat dipengaruhi oleh morfologi, sebab endapan tersebut adalah menutup dan mengisi cekungan. Bagian bawah menampakkan morfologi asal bagian atasnya datar.

3.    Endapan piroklastik surge
Yaitu suatu awan campuran dari bahan padat dan gas (uap air) yang mempunyai rapat massa rendah dan bergerak dengan kecepatan tinggi secara turbulent diatas permukaan. Umumnya mempunyai pemilahan yang baik, berbutir halus dan berlapis baik. Endapan ini mempunyai struktur pengendapan primer seperti laminasi dan perlapisan bergelombang hingga planar. Yang paling khas dari endapan ini mempunyai struktur silang siur, melensa dan bersudut kecil. Endapan surge pada umumnya kaya akan keratin batuan dan kristal.



Tekstur, Komposisi Mineral, dan Klasifikasi Batuan Metamorf

Apa kabar sahabat GN? Ane mau lanjut pembahasan yang sebelumnya, ya masih tentang batuan metamorf, tapi kali ini ane mau bahas mengenai tekstur, komposisi mineral, dan klasifikasi. Yok langsung aja sahabat sebelum keburu lupa haha…

Tekstur.
Tekstur pada batuan metamorf digolongkan menjadi :
a.    Tekstur Kristaloplastik.
Tekstur yang terjadi pada saat tumbuhnya mineral dalam susunan padat dan bukan mengkristal dalam suasana cair.

  1. Lepidoblastik, tekstur dimana mineral-mineral penyusun berbentuk pipih. Contoh: sekis mika.
  2. Nematoblastik, tekstur dimana mineral-mineral penyusun berbentuk prismatic (piroksen, Hornblende) . Contoh : Sekis hornblende.
  3. Granoblastik, tekstur dimana mineral-mineral penyusun membutir/granuler (kuarsa, flespar, kalsit). Contoh : Kuarsit.
  4. Hornfelsik, tekstur yang tidak menunjukkan penjajaran tetapi mineral-mineral penyusun membutir/granuler. Contoh : Hornfels.
  5.  Idioblastik, tekstur dimana bentuk mineral-mineral penyusunnya berbentuk euhedral.
  6. Xenoblastik, tekstur dimana bentuk mineral-mineral penyusunnya berbentuk anhedral. 

b.    Tekstur Palipsest.

Merupakan sisa dari batuan asal yang dijumpai pada batuan metamorf, meliputi :
1.    Blastoporfiritik, suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritk.
2.    Blastopsefit, suatu tekstur sisa dari batuan sedimen yang ukuran butirnya lebih besar dari pasir.
3.    Blastopsamit, sama dengan blastopsefit hanya saja disini ukuran butirnya sama dengan pasir.
4.    Blastopellite, tekstur sisa daari batuan sedimen yang berukuran butir lempung.

Komposisi Mineral

Pada umumnya mineral yang terbentuk adalah kuarsa, mineral mika, feldspar, klorit, amphibol, dan piroksen.




                               

Klasifikasi Batuan Metamorf

1.    Berfoliasi Sangat Kuat.

“Slate” (Batu Sabak)

    “Slate” (Batu Sabak)
Adalah peralihan dari sedimen yang berubah ke metamorfik., Slate merupakan derajat metamorphose rendah dari lempung sangat halus, dan keras, memperlihatkan belahan-belahan yang rapat dimana mulai terdapat daun-daun mika halus.
                                                           




    Filit (“phyllite”)
Filit (“phyllite”)
Filit adalah derajat metamorphose yang lebih tinggi daripada sabak, di mana daun-daun mika (dan klorit) sudah cukup besar, bidang foliasinya mengkilap (berkilap sutera pada pecahan-pecahan) dan memberikan belahan Phyllite yang khas. Batuan ini merupakan peralihan dari batu sabak ke skiss.






Skiss (“Schist”)
    Skiss (“Schist”)
Skiss adalah batuan yang paling umum yang dihasilkan metamorfosa regional, sangat khas adalah kepingan-kepingan yang jelas dari mineral-mineral pelat seperti mika, talk, klorit, hematite dan mineral-mineral kuarsa, grafit, feldspar, sugit, hornblende, garnet, epidot.

              
2.    Berfoliasi Lemah.

Berfoliasi lemah yaitu batuan metamorf yang berfoliasi tetapi tidak mudah/tidak dapat pecah melalui bidang foliasi. Orientasi mneral-mineral pipih berselingan dengan mineral yang tidak pipih yang berbutir sama besar. Batuannya antara lain :

Gneiss

 Gneis (“Gneiss”). Gneis adalah merupakan batuan metamorfosa regional yang berderajat tinggi, bersifat faneritk, berbutir sedang sampai kasar, mempunyai sifat bandel karena gneissosity.







3.    Berfoliasi Sangat Lemah Sampai Tidak Berfoliasi.

  Kuarsit (“Quartzite”)


    Kuarsit (“Quartzite”)
    Batuan ini terdiri dari kuarsa yang terpatahkan atau disementasikan oleh silica kristalin, sehingga merupakan batuan yang kompak, membelah melalui butiran kuarsa tanpa foliasi. Batuan ini terjadi karena metamorfosa regional dari batu pasir kuarsa pada semua derajat metamorfosa.





    Marmer (“Marble”)
    Marmer terdiri dari mineral kalsit yang terjadi karena proses metamorfosa regional atau rekristalisasi dari batu gamping. Batuan ini padat, kompak tanpa foliasi, terbentuk karena proses metamorfosa kontak. Warnanya abu-abu (biasanya) karena grafit juga hadir (bereaksi positif dengan HCl)
 Gambar 6. Marmer

   

“Hornfles” (batutanduk)
“Hornfles” (batutanduk)
    Batuan ini terbentuk dalam bagian dalam daerah kontak sekitar tubuh batuan beku. Pada umumnya batuan ini merupakan rekristalisasi batuan asalnya, tak ada foliasi tetapi batuan halus dan padat. Teksturnya afanitik sampai faneriktik halus, berkomposisi kuarsa, feldspar, mika.




    “Granofles”
    Batuan ini bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi kuarsa dan feldspar (yang berbentuk kubus).


Serpentinite
“Serpentinite”
    Batuan ini bersifat non foliasi sampai lineasi, berwarna hitam, hijau sampai kuning pucat. Komposisi utama terdiri dari mineral-mineral serpentin atau talk hijau, massif dan talk berserabut.




   


Ampibolit (“Amphibollite”)
Ampibolit
    Batuan ini sama dengan skis hornblende, tetapi foliasi tak berkembang dengan baik. Hasil dari metamorfosa regional batuan basalt atau gabro (gang,sill,stock) berwarna kelabu, hijau atau hitam dan mengandung mineral-mineral epidot, augit hijau, biotit, dan almandine.










Pengertian, Tipe, Struktur batuan Metamorf

halo sahabat GN (geologi notes), ane mau cerita cerita dikit nih agak ke curhat sih sebenernya, dulu pada awal karbon haha… lama banget ya, pertama kali ane kuliah di geologi jujur aja ane kesulitan buat ngerjain tugas tugas kuliah nih sahabat, karena memang buku geologi itu jarang kalopun ada lagi lagi bahasa inggris, menyebalkan bukan??? Disini ane bermaksud buat berbagi nih buat sahabat – sahabat GN, kali ini ane bakal bahas tentang petrologi, tepatnya sih tentang batuan metamorf, yuk langsung aja kita ke pembahasan agak serius *padahal udah kehabisan kata-kata wkwkwk 


 Pengertian Batuan Metamorf

    Metamorfose atau perubahan bentuk adalah proses rekristalisasi di dalam kerak bumi (3-20 km) yang keseluruhan atau sebagian banyaknya terjadi di dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fase cair, sehingga terbentuk struktur dan mineralogi baru akibat perubahan temperatur ( T ) [650 0 – 200 0 C] dan tekanan ( P ) yang tinggi.


    Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk, batuan beku, batuan sedimen, maupun metamorf sendiri yang mengalami metamorfosa.

    Menurut H.G.F. Winkler, 1967, metamorfisme adalah proses yang mengubah mineral suatu batuan pada fase padat karena pengaruh atau respon terhadap kondisi fisika dan kimia di dalam kerak bumi, dimana kondisi fisika dan kimia berbeda dengan kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk pelapukan atau diagenesa.
Tipe – Tipe Metamorfose.

1.    Metamorfose Lokal.
Disebut lokal karena penyebaran metamorfose ini sangat terbatas sekali (beberapa meter sampai beberapa puluh meter).
a.    Metamorfose kontak atau thermal.
Metamorfose kontak disebabkan oleh karena adanya kenaikan temperatur pada batuan tertentu.
b.    Metamorfose dislokasi / kataklastik / dinamo.
Batuan metamorfose ini ditemukan pada daerah yang mengalami dislokasi, misal pada daerah sesar besar. Proses metamorfose terjadi pada lokasi dmana batuan ini mengalami proses penggerusan secara mekanik yang disebabkan oleh faktor penekanan baik tegak maupun mendatar.
2.    Metamorfose Regional.
a.    Metamorfose dinamo thermal.
Metamorfose ini terjadi karena pada kulit bumi bagian dalam dan faktor yang berpengaruh adalah temperatur dan tekanan yang sangat tinggi.
b.    Metamorfose beban / burial.
Batuan metamorfose ini terbentuk oleh proses pembebanan oleh suatu massa sedimentasi yang sangat tebal pada suatu cekungan yang sangat luas atau dikenal dengan  sebutan geosinklin.

Struktur  Batuan Metamorf

Terjadi sebagai penyesuaian dengan kondisi baru akibat tekanan dan temperatur.

Ada dua jenis struktur:

  1. Struktur Non foliasi, struktur yang tidak menunjukkan adanya penjajaran mineral dan batuan massif. Ini terjadi akibat batuan kontak dengan tubuh intrusi batuan beku, batua yang terbentuk biasanya berbutir halus. Dan batuan berasal dari batuan asal yang mempunyai mineral tunggal seperti gamping, sehingga tidak terbentuk mineral baru tetapi kristal-kristal yang kecil tumbuh lebih besar dalam tekstur interlocking menjadi batuan baru. Contoh : batu gamping jadi marmer.
  2. Struktur Foliasi, menunjukkan penjajaran mineral. Ada 3 macam:


  • Slaty cleavage, struktur yang diekspresikan oleh kecenderungan batuan metamorf yang berbutif halus membelah sepanjang bidang subpararel  yang diakibatkan oleh orientasi penjajaran dari mineral-mineral pipih yang kecil seperti mika, talk, atau klorit. Contoh: slate/batu sabak
  • Schistosity: struktur sifatnya mirip dengan di atas, tetapi mineral-mineral pipih kebanyakan lebih besar dan secara keseluruhan batuan metamorf ini tampak menjadi lebih kasar/medium. Contoh : Sekis.
  • Gneissic : struktur yang dibentuk oleh perselingan lapisan yang komposisinya berbeda dan berbutir kasar (Feldspar, Kuarsa). Contoh : Gneiss.
  • Filitik : struktur yang hampir mirip dengan struktur slatycleavage, hanya mineral dan kesejajarannya sudah mulai agak kasar.
Hmmm…. Sampe disini dulu ya sahabat pembahasan kita kali ini, tapi bagi sahabat GN yang mau tau lagi tentang tekstur, komposisi mineral, dan klasifikasi batuan metamorf, monggo mampir ke artikel selanjutnya…